Selasa, 23 Oktober 2012

budidaya apel

Diposkan oleh ratich meica di 00.35
                                     cara budidaya  buah apel
Pertanian Apel Malang sampai 1962
Sejarah awal tanaman Apel tidak lepas dari cerita tentang petani-petani yang berasal dari Belanda yang banyak bermukim di kawasan ini akibat kebijakan yang diberlakukan di masa itu.  Perkembangan awal tanaman apel tidak lepas dari pengusahaan tanaman jeruk Keprok Batu (dikenal juga dengan Jeruk Keprok Punten) oleh petani Belanda.  Tanaman jeruk ini diusahakan petani dengan teknik tradisional dimana petani masih banyak mengandalkan pada kondisi alam yang masih sangat mendukung saat itu.  Namun pada tahun 1929, sebagian besar tanaman jeruk petani diserang penyakit pada akar yang sangat sulit untuk diatasi.  Salah seorang pegawai pertanian dan perkebunan Kawedanan Pujon bernama Kandar dan atasannya Miller dengan segala upaya mengatasi persoalan namun mangalami kegagalan.  Pada saat yang sama, banyak terdapat tanaman apel yang tumbuh secara liar di halaman petani Belanda di kawasan Batu.  Salah seorang diantaranya yang bernama Pegtel (Desa Pesanggrahan) memiliki perhatian lebih terhadap tanaman ini.  Selanjutnya Pegtel mendorong Kandar untuk melakukan perbanyakan tanaman apel dengan okulasi, bahkan ia pun mendatangkan mata tunas langsung dari Australia.  Dari tujuh okulasi, lima diantaranya tumbuh menjadi bibit baru.  Selain Pegtel terdapat ahli pertanian bernama Ir. Gherts yang juga mendatangkan 19 macam tanaman Apel ke Batu dari Australia untuk ditanam di Nglebo, Pujon.  Sekitar tahun 1930, Pegtel mulai membagikan hasil pekerjaan Kandar kepada petani Belanda lainnya di Batu, namun melarang menyebarkannya pada petani lokal pribumi).
Sekitar tahun 1934 beberapa kebun Apel mulai banyak yang berbuah dan mulai dipasarkan disekitar Malang terutama oleh de Ruyter Dewildt dengan jenis Rome Beauty (atau Apel Australi) yang dikenal dengan warna hijau kemerah-merahan.  Selain petani Belanda, petani Tionghoa juga mengusahakan tanaman ini diantaranya D. S. Oe dengan kebunnya di kawasan Junggo.  Sampai masa itu, petani lokal lebih banyak mengusahakan Jeruk Keprok Punten dan sayuran yang kondisi budidayanya mengalami kondisi yang kurang baik.  Perubahan kawasan pertanian mulai terjadi saat pendudukan Jepang tahun 1942 dimana semua jenis tanaman budidaya diganti dengan tanaman Jarak yang berguna untuk diambil minyaknya yang berfungsi sebagai minyak pelumas dan bahan bakar mesin dan kendaraan perang Jepang.  Oleh karena itu banyak kebun Apel menjadi terbengkalai dan tidak dapat menghasilkan buah yang maksimal.
Memasuki masa kemerdekaan, aset-aset Belanda termasuk lahan perkebunan dan lahan percobaan di Batu dilakukan serangkaian tindakan pengambilalihan.  Setelah mengalami masa jeda saat pendudukan Jepang, tanaman Apel sekitar tahun 1948 lebih banyak digunakan sebagai tanaman pagar akibat aksi bumi hangus serta tidak tahunya petani lokal dalam melakukan tindakan budidaya tanaman Apel.  Namun pada tahun 1950, petani lokal mulai membudidayakan kembali tanaman Apel namun dengan hasil yang sedikit (akibat teknik budidaya yang seadanya).  Tahun 1951, saat digelar pertemuan hortikulturis di Jakarta, Apel Batu mulai diperkenalkan dan selanjutnya ditahun yang sama, Lembaga Penelitian Hortikultura Pasar Minggu Jakarta mendatangka 21 klon jenis Apel dari Australia yang ditanam di kebun percobaan Jawa Timur termasuk di Batu.  Tanaman tersebut ditanam begitu
saja sebagai koleksi kebun percobaan yang tumbuh baik dan berbuah dengan sendirinya namun tidak menghasilkan buah-buah yang istimewa.  Pada tahun 1957 dilakukan perbanyakan bibit Apel oleh R. Widodo (Kepala Cabang Lembaga Penelitian Hortikultura Malang) di Kebun Percobaan Banaran yang selanjutnya di sebarkan ke masyarakat yang tertarik, bahkan dikirimkan ke So’e NTT. Namun sampai tahun 1962, petani masih membudidayakan dengan cara konvensional sehingga tanaman belum dapat berbuah seperti yang diharapkan (wawancara R Widodo dalam Kusumawardana, 2001)
 
Penelitian-penelitian selanjutnya menjawab banyak pertanyaan tentang teknik budidaya tanaman Apel di iklim tropis diantaranya yang dirumuskan oleh Tim Laboratorium Fisiologi Tumbuhan, FPUB berikut:
  • Varietas. Varietas Apel yang ideal belum tersedia untuk daerah tropis dengan suhu yang lebih tinggi, intensitas sinar matahari yang lebih rendah, dan panjang hari yang lebih pendek dari kondisi di daerah subtropis.  Varietas yang tersedia sekarang ini dan cukup berhasil diusahakan dengan segala kekurangannya adalah Apel Manalagi, Anna, Wangli/Lali jiwo, Princess Noble dan Rome Beauty.
  • Ketinggian tempat. Tanaman Apel dapat tumbuh dan berbuah baik pada ketinggian 700-1200 m dpl, dengan ketinggian optimal 1000-1200 m dpl.  Hasil penelitian di daerah Malang Raya menunjukkan bahwa hasil buah yang tinggi diperoleh pada ketinggian 800-1000 m dpl.
  • Iklim.  Pengalaman hasil uji coba penanaman di daerah Cipanas, Jawa Barat membawa pada kesimpulan bahwa curah hujan yang tinggi dapat menghambat penyerbukan dan pembentukan buah akibat kegagalan penyerbukan dari tepung sari yang basah.  Curah hujan yang ideal adalah 1.000-2.600 mm/tahun dengan 110-150 hari/tahun, dan 6-7 bulan basah (3-4 bulan kering). Tanaman Apel setiap hari membutuhkan cahaya matahari >60% dari cahaya penuh (300 W.m-2 atau J.m-2.s-1 = 1277 mmol.m-2.s-1) terutama pada saat pembentukan buah.  Suhu yang sesuai berkisar antara 16-270C.  Kelembaban udara yang dikehendaki tanaman Apel sekitar 75-85%.  Kecepatan angin yang cukup tinggi dapat merangsang pembungaan yang dapat berhubungan sebagian dengan perontokan daun secara alami setelah panen
  • Tanah.  Jenis tanah yang terdapat pada daerah penanaman Apel di wilayah Malang Raya (Andisol dan Inceptisol) pada umumnya tidak menunjukkan pengaruh yang cukup nyata pada pertumbuhan dan hasil buah tanaman.  Jenis tanah  dengan tingkat kemasaman sekitar normal (pH 6-7), solum dalam, bahan organik tanah tinggi, struktur remah (gembur), aerasi baik, dan serapan air baik (porositas tinggi) adalah yang ideal untuk pengusahaan tanaman Apel.
  • Jarak tanam. Jarak tanam yang ideal untuk tanaman Apel tergantung pada varietas khususnya arsitektur tajuk dan sistem perakaran.  Jarak tanam yang dianjurkan adalah 3-3.5 x 3.5 m dianjurkan untuk varietas Manalagi dan Princess Noble, dan 2-3 x 2.5-3 m untuk varietas Rome Beauty dan Anna. Populasi yang relatif tinggi biasanya mendorong pertumbuhan vegetatif yang membuat kondisi lingkungan mikro yang tidak menguntungkan seperti sebaran sinar matahari dalam tajuk tanaman yang rendah dan kelembaban tinggi yang mendorong perkembangan penyakit.
  • Pemangkasan.  Pemangkasan dapat diperlukan yang ditujukan untuk membentuk arsitektur tajuk yang ideal untuk pelengkungan dan pembentukan buah.
  • Perompesan. Perompesan daun atau tajuk tanaman diperlukan sekitar satu bulan setelah panen untuk meniru pengaruh musim gugur di daerah subtropis yang membawa pada pembentukan bunga dan buah.  Perompesan telah dilakukan sejak lama pada tanaman Apel di daerah subtropis apabila cuaca kurang mendukung perontokan daun.
  • Pengairan dan Penyiraman.  Penyediaan yang cukup dan teratur sepanjang musim khususnya setelah perompesan daun dan perkembangan buah diperlukan.  Karena masa ini biasanya berlangsung pada saat musim kemarau di wilayah Malang Raya, pengairan diperlukan dan dirancang sedemikian sehingga tidak mengakibatkan genangan air dan limpasan air permukaan yang tinggi.
  • Pemupukan.  Pemupukan dilakukan setelah perompesan daun untuk memenuhi kebutuhan dari pembentukan tajuk termasuk buah akan unsur hara yang dapat tidak tersedia cukup dalam tanah.  Dosis yang dianjurkan adalah 1-2 kg/pohon NPK (15-15-15) atau campuran Urea, TSP, KCl/ZK ± 3 kg/pohon (4:2:1).  Pemupukan susulan dapat dilakukan pada saat perkembangan buah (2,5-3 bulan setelah rompes) tergantung pada tingkat pembentukan buah dengan dosis 1 kg/pohon NPK (15-15-15) atau campuran Urea, TSP dan KCl/ZK ± 1 kg/pohon (1:2:1) untuk pohon dengan buah yang lebat.  Pemupukan yang dilakukan pada musim kemarau setelah perompesan daun harus disertai dengan pengairan yang cukup.
  • Pelengkungan cabang.  Pelengkungan cabang diperlukan untuk menekan dominasi titik tumbuh pada ujung cabang (apical dominance) dan merangsang pembentukan tunas lateral yang akan menghasilkan bunga dan buah.  Setelah perompesan daun, pelengkungan cabang dilakukan dengan cara menarik ujung cabang ke arah bawah hingga cukup datar dengan tali (plastik) yang kemudian diikatkan pada batang atau cabang lain.
  • Penjarangan buah.  Penjarangan buah dapat diperlukan untuk pohon yang berbuah lebat untuk mendapatkan kualitas buah yang tinggi (ukuran besar dan seragam, kulit baik dan sehat).  Buah yang tidak sehat atau normal (terserang hama penyakit dan ukurn kecil) menjadi pilihan untuk dibuang, dan umumnya buah yang sehat diperoleh pada tunas yang  menghasilkan 3-5 buah/tunas.
  • Pembungkusan buah.  Peningkatan warna buah dapat dilakukan dengan bahan kimia (Ethrel, 2.4 D & Paklobutrazol) yang bekangan ini tidak disukai oleh banyak konsumen yang berhubungan dengan kesehatan dan kelestarian lingkungan.  pembungkusan buah untuk sekitar 2-3 bulan sebelum panen dengan kertas yang dibuat berlubang pada bagian bawah pada mulanya ditujukan untuk mencegah serangan burung dan kelelawar.  Tetapi perlakuan ini tanpa disadari dapat meningkatkan sistesis pigmen antocyanin yang menghasilkan warna buah yang merata (mulus).
 
 
Perbaikan Kualitas Pertanaman Apel Malang
Strategi revitalisasi tanaman Apel Malang sebagai komoditi unggulan kawasan pertanian Malang Raya diupayakan terus menerus untuk mengembalikan kejayaan masa lalu disamping usaha menjaga keberlanjutan lingkungan serta melestarikan identitas/image Malang Raya.  Pemerintah bersama masyarakat dan perguruan tinggi bahu membahu terus mengupayakan perbaikan sistem pertanian tanaman Apel untuk dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan produktivitasnya.  Untuk mengatasi persoalan produktivitas dan kualitas pertanian Apel diatas, Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (FPUB) melakukan penelitian intensif guna mencari faktor pertumbuhan dan pembatas pengusahaan tanaman Apel.  Faktor pertumbuhan yang banyak mendapat perhatian selama ini antara lain adalah Ketinggian Tempat (Altitude), Suhu, Kelembapan, Infiltrasi (resapan air tanah), Status Hara Tanah atau Tanaman, dan Jarak Tanam (Area per pohon).
V .  PERAWATAN  TANAMAN  BIBIT POHON APEL MALANG .

Pertama adalah pemupukan berkelanjutan selama 3 ~ 3.5 tahun sampai g>pohon apel malang berbuah. Pemupukan dapat kita berikan dalam setahun sebanyak 3 ~ 4 kali dengan perbandingan antara 50:25:25 atau 50:30:20 artinya urea 50%, tsp 25%/30% dan kcl 25%/20% ini untuk tahun pertama. Setiap pohon apel malang akan membutuhkan pupuk sebanyak 30 ~ 50 gram untuk sekali pemupukan dalam satu tahun pertama pemupukan tersebut.

Pemupukan untuk tahun kedua perbandingannya adalah 40:40:20 atau 40:30:30 dengan ukuran sebanyak 50 ~ 75 gram per pohon apel malang, dalam masa pertumbuhan ini untuk mencapai pertumbuhan yang optimal atau lebih bagus, anda bisa juga dengan memberikan pupuk cair untuk disemprotkan pada tanaman setiap dua minggu sekali .

Pupuk cair yang dibutuhkan adalah pupuk cair perangsang batang dan akar ditambah dengan pupuk cair npk dan jangan lupa berikan sedikit pestisida untuk perlindungan tanaman dari serangan hama penyakit tanaman yang biasa menyerang .

Pada pemupukan tahun ketiga harus diberikan pemupukan yang lebih baik dengan perbandingan antara 30:50:20 atau 30:40:30, kalau buah apel malang yang kita tanam ingin sedikit berbuah lebih manis maka perbandingannya adalah 20:40:40. Pupuk yang dibutuhkan untuk setiap pohon sebanyak 120 ~ 200 gram .
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 


 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 



 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

0 komentar:

Poskan Komentar

 

ratich meicha Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei